Jumat, 25 Februari 2011

KEMISKINAN (TUGAS PEREKONOMIAN INDONESIA)


KEMISKINAN
       Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan berupa meningkatnya persepsi masyarakat yang melihat adanya hubungan tidak searah antara keberhasilan perkembangan makro ekonomi dengan unsur pemerataan. Sekalipun data-data resmi pemerintah menunjukkan terjadinya penurunan jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa kemiskinan pada dasarnya mengacu pada keadaan serba kekurangan dalam pemenuhan sejumlah kebutuhan,seperti makan,minum,rumah, pekerjaan, pendidikan,pengetahuan,akses terhadap informasi yang bermanfaat untuk mendapatkan sumber daya produktif, dll.

PROFIL KEMISKINAN
       Salah satu syarat keberhasilan program-program  pembangunan sangat tergantung pada ketepatan pengidentifikasian target group dan target area. Dalam pelaksanaan program pengentasan nasib orang miskin,keberhasilannya bergantung pada langkah awal dari formulasi kebijakan, yaitu mengidentifikasikan siapa sebenarnya “si miskin” tersebut dan dimana ia berada. Kedua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat profil dari si miskin. Pertanyaan pertama tentang siapa si miskin, dapat dijawab dengan memperhatikan profil si miskin itu sendiri yang antara lain berupa karakteristik ekonominya seperti sumber pendapatan, pola konsumsi/pengeluaran, tingkat beban tanggungan dll. Juga perlu diperhatikan profil si miskin yang berupa karakteristik sosial budaya dan karakteristik demografinya seperti tingkat pendidikan, cara memperoleh fasilitas kesehatan, jumlah anggota keluarga,dll..
       Pertanyaan kedua tentang di mana si miskin berada dapat dijawab dengan melihat karakteristik geografisnya. Yaitu dengan menentukan di mana penduduk miskin terkonsentrasi, apakah di desa atau di kota. Selanjutnya secara lebih mendalam lagi, dapat dilakukan suatu kombinasi antara karakteristik sosial-budaya,ekonomi dan demografi, termasuk tentunya dengan karakteristik geografi dari orang-orang yang tergolong miskin. Misalnya saja,untuk daerah perkotaan perlu diketahui apakah mereka yang termasuk miskin tsb lebih banyak bekerja di sektor-sektor bangunan dan konstruksi ataukah sektor perdagangan. Sedangkan di daerah pedesaan, harus diketahui apakah yang miskin lebih banyak sebagai petani atau nelayan. Dengan memperhatikan profil kemiskinan, maka diharapkan kebijakan yang disusun dalam mengentaskan orang miskin akan lebih terarah dan tepat sasaran.

ALOKASI GEOGRAFIS PENDUDUK MISKIN
        Penduduk miskin lebih banyak berada di daerah pedesaan daripada di daerah perkotaan. Seperti diketahui bersama, pengangguran terselubung masih cukup banyak di daerah pedesaan. Mereka ini umumnya merupakan buruh tani yang tidak memiliki lahan/pengusaha tani dengan lahan sempit di desa. Namun, dari waktu ke waktu terjadi penurunan jumlah yang miskin di pedesaan. Sementara jumlah yang miskin di perkotaan terus meningkat.hal ini diakibatkan oleh adanya pengalihan orang miskin dari pedesaan ke perkotaan melalui migrasi desa-kota. Penganggur tersembunyi dari pedesaan, yaitu buruh tani tidak dapat memasuki sektor-sektor formal di perkotaan yang sangat terproteksi. Akibatnya, mereka berkelana di sektor nonformal perkotaan sebagai  penjual bakso, pedagang asongan, pemulung, gelandangan dll. 

KARAKTERISTIK DEMOGRAFIS PENDUDUK MISKIN
       Dari informasi yang tersedia dalam data tape SUSENAS 1990 dapat dipotret beberapa karakteristik demografis rumah tangga miskin. Diantaranya adalah mengenai jumlah anggota keluarga dan tingkat beban tanggungan (dependency ratio). Secara umum keluarga miskin cenderung memiliki jumlah anggota lebih banyak dibandingkan keluarga tidak miskin. Semakin besar anggotanya semakin cenderung miskin rumah tangga tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Program Keluarga Berencana yang salah satunya bertujuan membatasi jumlah anggota keluarga merupakan salah satu kebijakan yang sejalan dengan usaha pengentasan orang miskin.

SUMBER PENGHASILAN RUMAH TANGGA  MISKIN
       Sumber penghasilan dibagi menjadi 4, yaitu sumber penghasilan dari upah/gaji, penghasilan dari usaha, penghasilan dari transfer rumah tangga lain dan penghasilan dari lainnya. Penghasilan dari upah/gaji merupakan imbalan sebagai buruh. Penghasilan dari usaha merupakan imbalan sebagai pemilik usaha, penghasilan dari  transfer terdiri dari uang kiriman, warisan, sumbangan, hadiah, hibah, dan bantuan. Sedangkan penghasilan dari lainnya meliputi penghasilan dari sewa, bunga, deviden, pensiun, beasiswa dll.

POLA PENGELUARAN RUMAH TANGGA MISKIN
       Secara umum,porsi pengeluaran makanan dari rumah tangga miskin pada umumnya jauh lebih besar, apabila dibandingkan dengan porsi pengeluaran nonmakanannya. Hal ini karena memang kelompok rumah tangga miskin masih mementingkan kebutuhan perutnya yang primer dibandingkan kebutuhan lainnya yang sekunder. Tidak sedikit diantara keluarga miskin yang tidak mampu untuk sekedar mencukupi kebutuhan pangannya secara layak.

CARA BERTAHAN HIDUP ORANG MISKIN
       Dalam keadaan yang serba kekurangan, orang miskin mengembangkan aneka cara untuk bisa melangsungkan kehidupannya, termasuk cara-cara untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam situasi miskin,ketergantungan kepada orang lain, apakah itu kerabat, teman, tetangga, atau institusi-institusi yang ada menjadi sangat tinggi. Dengan demikian, orang-orang yang dikategorikan miskin adalah orang-orang yang dalam pemenuhan kebutuhan utamanya sangat tergantung pada pihak-pihak lain. Sementara itu, berdasarkan penelitian tentang orang miskin di Filipina, Carner (1988) mengemukakan, ada beberapa cara yang dilakukan rumah tangga miskin untuk menanggulangi masalah kekurangannya itu. Salah satunya adalah para anggota rumah tangga menganeka-ragamkan kegiatan-kegiatan kerja mereka. Pekerjaan- pekerjaan yang merendahkan martabat pun masih mereka terima dan kerjakan, kendati ganjaran yang mereka peroleh terhitung sangat rendah.

KESIMPULAN
       Masalah kemiskinan telah menjadi salah satu fokus utama dalam perencanaan pembangunan indonesia. Rasanya ada suatu proses penurunan kemiskinan yang melambat semenjak pertengahan tahun 1980-an. Selain itu penduduk yang “nyaris miskin” yang berada di atas garis kemiskinan ternyata masih relatif sangat banyak. Dari profil kemiskinan dapat diketahui lebih tepat siapa si miskin sebenarnya, dimana mereka berada,bagaimana mereka mencari penghidupan dan sebagainya. Dengan megetahui lebih baik profil target group, diharapkan kebijakan pengentasan penduduk miskin akan mengena sasaran.

sumber: PEREKONOMIAN INDONESIA, FAISAL BASRI.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright (c) 2010 DIANA'S BLOG. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.